Ini yang pertama kali Ariana datang ke taman ini, dia duduk di kursi taman yang terbuat dari besi dan berwarna putih itu. Dingin mulai membelai kulit Ariana, hembusan angin terasa menyapanya pelan dan matahari sore memandangi setiap lekuk wajah bulat dengan lesung pipit itu. Ariana duduk terdiam melepaskan semua perasaan yang membebaninya seharian ini. Ariana mendekap beberapa buku yang dia bawa berharap akan membuat angin tidak mencoba membuatnya merasa lebih dingin lagi. Pikirannya kembali tertaut pada kejadian tadi siang yang membuat hatinya letih seharian ini. Gadis yang berbadan agak gemuk dengan rambut lurus panjang itu memejamkan matanya mencoba mencari-cari kedamaian yang ada di taman itu. Wajahnya yang tidak begitu cantik tidak membuatnya nampak tidak menarik karena senyum dan raut wajahnya yang manis dapat membuat mata orang yang memandang tidak pernah merasa bosan. Ariana menghela nafas panjang, mencoba membuat dirinya lebih baik setelah kejadian yang membuat hatinya sakit tadi siang. Gadis berusia 22 tahun tamatan salah satu Universitas swasta itu memijat-mijat pundaknya, meringankan beban yang menyiksanya. Dia baru saja lulus dari jurusan Ekonomi dan mulai bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan retail fashion. Sejak hari pertama sampai hari ini sudah tiga minggu dia bekerja disana, atasannya seorang wanita paruh baya yang baik hati padanya. Kejadian tadi siang tadi adalah saat Ibu Ros atasan Ariana mengajaknya untuk menemaninya makan siang bersama. Saat sampai di Restaurant favorit Ibu Ros, Ariana melihat seorang yang sangat dia kenal dekat berada satu meja dengan seorang gadis cantik. Mereka tampak akrab dan sesekali tertawa bersama. Ariana semakin yakin bahwa orang tersebut adalah Alvian, kekasih hatinya yang telah bersama sejak 3 tahun lalu. Mata Ariana melihat Alvian mencium tangan gadis itu, gadis itu tersipu malu dan tersenyum simpul sedangkan Alvian tidak melihat keberadaan Ariana disana. Saat keluar dari Restaurant pun terlihat Alvian menggandeng tangan gadis cantik itu, berjalan bersama keluar Restaurant dengan mesra. Mata Ariana hampir meneteskan air mata melihat kejadian itu, namun tak ingin mengecewakan Ibu Ros, Ariana pun menutupinya. Ariana dan Ibu Ros makan siang dan mengobrol layaknya seperti sahabat baik walaupun Ariana baru tiga minggu menjadi sekretaris Ibu Ros.
Pukul 7 malam, Ariana telah sampai di rumah sederhananya. Disana dia tinggal bersama neneknya seorang karena orang tua Ariana telah meninggal saat dia masih kecil.
"Na, kenapa baru pulang?", tanya nenek yang ternyata telah menunggu Ariana pulang sedari tadi.
"Maafin Na ya Nek, Na tadi ada sedikit pekerjaan yang harus Na kerjakan. Maafin Na karena Nenek jadi nunggu lama. Na udah bawain makanan enak buat Nenek, ayo kita makan bersama Nek..", Ariana tersenyum pada Neneknya dan membantu Neneknya bangun untuk menuju ke meja dapur agar bisa makan bersama Neneknya yang sangat dia sayangi.
Setelah makan malam bersama dan mengajak Neneknya istirahat ke kamarnya, Ariana pun mandi membersihkan badan dan rambut panjangnya dari keringat dan debu setelah seharian ini. Selesai mandi dan mengenakan pakaian tidur berwarna biru muda kesukaannya, Ariana merebahkan diri di tempat tidurnya. Tangannya menggapai HP dan memeriksa apakah ada telepon atau pesan dari Alvian. Ariana menghela nafas, Alvian sama sekali tidak mengabarinya selama seharian ini. Tiba-tiba telepon dari Alvian masuk, Ariana agak sedikit tegang, kesal tapi dia segera mengangkat telepon itu.
"Iya Al...", sapa Ariana dengan nada biasa.
"Halo Na, sudah di rumah? Nana sudah makan malam?", tanya Alvian pada Nana sapaan dekat Ariana.
"Na udah di rumah Al, tadi juga sudah makan sama Nenek..", jawab Ariana sesingkatnya.
"Gimana kerjaannya hari ini Na, lancar?", tanya Alvian kembali seperti ingin mengobrol lagi dengan Ariana.
"Semua lancar kok Al..", jawab Ariana kembali.
"Na, besok Nana kan libur. Besok aku mau ajakin Nana keluar. Ada yang ingin aku bicarain sama Na. Nanti aku jemput Nana jam 7 malam di rumah ya Na..", Alvian berharap jawaban Ariana adalah setuju untuk bertemu.
"OK Al, Nana tunggu besok", jawab Ariana berharap akan ada penjelasan esok saat bertemu Alvian.
"OK Na, sampai besok.. selamat beristirahat ya Na..", lembut kata Alvian.
Malam dikeesokan harinya Alvian datang ke rumah Ariana untuk menjemputnya sesuai janji. Ariana mengenakan dress putih selutut dan cardigan rajut biru muda, terlihat cantik. Mereka berpamitan kepada Nenek dan berlalu pergi menuju Cafe tempat biasa mereka mengisi waktu selama 3 tahun terakhir ini. Hanya 20 menit dari rumah dengan mengendarai Honda CRV putih Alvian, mereka telah sampai dan menuju meja salah satu Cafe tersebut. Waiter Cafe tersebut datang menanyakan pesanan kepada mereka.
"Selamat malam..", sapa Waiter tadi.
"Mas, kita pesan Chocolate Milkshake 2, Melon Pudding sama Blackforestnya ya seperti biasa, oya sama chicken pizza ukuran mediumnya ya Mas..", jawab Alvian kepada Waiter tadi.
"Baik Mas, ada pesanan lain?", tanya Waiter itu lagi.
"Enggak, Makasih..", jawab Adriana.
"Baik, saya ulang pesanannya, Chocolate Milkshake 2, Melon Pudding 1, Blackforest 1, Chicken Pizza sedang 1, ditunggu pesanannya. Terima kasih..", kata Waiter tadi.
Beberapa saat kemudian pesanan dihidangkan.
"Al, ada yang ingin kamu sampaiin ke Na?", tanya Ariana memulai pembicaraan.
"Iya Na, tapi sebaiknya kita makan dulu ya Na..", jawab Alvian membucuk.
"Al,bisa gak jujur sama Na?", tanya Ariana kembali.
Alvian terdiam, nampak wajahnya tegang dan tangannya gemetar.
"Na, maafin aku, terlalu banyak alasan yang mendorong kita sehingga tak bisa melanjutkan hubungan ini. Mungkin hari ini terakhir kali kita bisa bersama sebagai pasangan. Besok lusa aku akan pergi melanjutkan studi ku ke Amerika. Maaf aku tidak memberitahu Nana sebelumnya..", Alvian terlihat kaku dan sulit berbicara. Cekat bibirnya mengatakan hal tadi.
"Alasan apa yang membuat kita harus berpisah Al?", tanya Ariana sedih dan kaget mendengar yang diucapkan Alvian.
"Dari awal orang tua kita tidak menyetujui hubungan kita Na, lagipula aku sudah dijodohkan dengan gadis lain, aku pun harus melanjutkan studi ke luar negeri seperti keinginan orang tuaku. Aku tidak bisa menahan semua ini..", Alvian menunduk menjawab Ariana, nampak air mata meleleh di pipi pemuda tampan itu.
"Al, kalau dari awal kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini, kenapa baru sekarang harus Al katakan semuanya?", tanya Ariana yang juga hampir menangis.
"Maafin aku Na..", Al sudah tidak dapat membendung lagi, air matanya keluar lebih banyak namun dia tetap menunduk tak mau memperlihatkan wajahnya.
"Al, Nana ikhlas.. Na hanya gak suka kalo Al harus bohong, karena Na sudah melihat sendiri kemarin Al dengan gadis lain..", kata Ariana sambil menggigit bibirnya dan terlihat wajahnya sangat kecewa.
"Jadi Na udah tau yang sebenarnya??", Alvian kaget.. "Dia Vera, gadis yang dijodohkan oleh orang tuaku Na. Dia gadis yang baik, aku pun tak mampu menolaknya. Sekali lagi aku minta maaf Na..", kata Alvian lirih.
"Semoga Al bahagia dengan Vera, Nana ikhlas Al, lebih baik semuanya jelas jadi Na gak punya beban lagi di hati", Ariana beranjak dari kursinya mendekati Alvian dan menggenggam tangan Alvian. Walaupun sedih Ariana tetap tersenyum ke arah Alvian, kemudian Ariana berlalu keluar dari Cafe meninggalkan Alvian yang duduk menunduk sendiri. Alvian sebenarnya masih sangat menyanyangi Ariana namun tak ada keberanian untuk melanjutkan hubungan ini dan terlalu takut dengan orang tuanya.
Sejak malam itu Ariana tak pernah bertemu lagi dengan Alvian, sudah beberapa minggu dari sejak itu. Nenek pun menanyakan Alvian, "Na, kok Al tidak pernah ke rumah lagi?".
"Iya Nek, Al mau pergi ke luar negeri", jawab Ariana singkat.
"Ke luar negeri? Kapan? Kenapa tiba-tiba?", tanya Nenek kaget.
"Nek, sebenarnya Na dan Al udah gak bersama lagi Nek.. Al dan Na memilih jalan masing-masing, Nenek mengerti maksudnya Na kan?", Ariana menangis di pangkuan Neneknya.
Nenek membelai rambut panjang Ariana, "Na, jangan sedih Nak.. Mungkin dia bukan jodoh terbaik dari Tuhan.."
Ariana menganggukkan kepalanya yang terbenam dalam pangkuan neneknya, dan berusaha menghapus air matanya. "Setidaknya Nana lega dengan kenyataan ini, semua sudah jelas sekarang Nek..", kata Ariana.
Pagi hari saat dimana orang-orang memulai aktivitasnya, begitu juga Ariana. Sudah siap bekerja dan menemui Ibu Ros. Saat berjalan menuju kantor, tiba-tiba ada seseorang dengan sepeda motor berhenti tepat di depannya. Ariana kaget, "Mas, hati-hati donk.." terlihat muka Ariana kesal.
"Hai Mba, ini Mba yang sering ke Cafe itu kan?", tanya pengendara motor yang kelihatan masih muda itu. Sepertinya masih berumur 24 tahun, wajahnya pun lumayan tampan.
"Mas ini siapa? Mas, kalo bawa motor itu hati-hati.. Coba kalo saya ketabrak gimana Mas?", Ariana masih terlihat kaget dan kesal.
"Maaf Mba, saya gak sengaja. Tadi saya liat Mba jadi saya... Maaf Mba..", pengendara tadi memotong ucapannya dan meminta maaf.
Ariana tersenyum dan menjawab, "Oh iya Mas, tolong lebih hati-hati nanti ya.."
"Iya Mba.. Oya ini Mba yang sering ke Cafe tempat saya bekerja kan?", tanya pengendara itu lagi.
Ariana mengingat-ingat wajah itu, "Oh ini Mas yang kerja di Cafe Banyan ya?"
"Iya Mba, oya kenalin Mba, nama saya Shandy..", tersenyum dan menyerahkan tangan untuk berjabat dengan Ariana.
Ariana menyambut tangan Shandy, "Aku Ariana, panggil Nana saja"
"Oya Nana mau kerja? ayo sini bareng aja, kita satu arah kayaknya..", Shandy semangat.
"Enggak Shan, aku jalan aja, lagi bentar aku nyampe kok, makasih ya gak perlu repot-repot", kata Arian seraya melempar senyum kepada Shandy.
Shandy agak sedikit kecewa, namun akhirnya dia mengalah, "Ok kalo gitu aku duluan ya Na, hati-hati ya.."
"Iya, makasih.. Shandy juga harus lebih hati-hati ya..", jawab Ariana tersenyum simpul.
Shandy pun berlalu dengan motornya menuju tempat kerjanya, Cafe Banyan.
Di sebuah Cafe yang lumayan terkenal di kalangan anak muda, Cafe Banyan. Disanalah Shandy bekerja hampir 4 tahun sebagai pelayan atau Waiter. Disana dia sering melihat Ariana dan Alvian datang dan menikmati waktu. Sejak dari pertama melihat Ariana, Shandy sudah menaruh hati padanya, dia kagum terhadap Ariana. Melihat senyumnya yang tulus dan sama sekali tak bosan memandang wajahnya dari kejauhan, walaupun sangat merasa bersalah mengagumi milik orang lain. Namun perasaan tersebut tetap tinggal di hati Shandy dan sekalipun tak pernah pudar. Entah jalan apa yang tengah dihadapinya sekarang, Shandy tahu kalau Ariana telah berpisah dengan Alvian. Mungkin ini kesempatan untuk mengungkapkan apa yang ada di hatinya sejak pertama bertemu Ariana. Sosok baik hati nan lugu itu.
Sejak pagi pertemuan Shandy dan Ariana, mereka menjadi lebih saling mengenal. Shandy selalu membuat tawa menghiasi wajah Ariana. Shandy memang sosok yang humoris, sangat menyenangkan. Shandy pun sering ke rumah Ariana menjenguk Nenek Ariana walaupun Ariana tidak sedang di rumah. Shandy yang tidak memiliki keluarga sangat bahagia seperti menemukan keluarga baru di tengah-tengah Ariana dan Nenek. Ibu tercinta, satu-satunya yang masih dia punya selama ini telah meninggal karena sakit sekitar 5 tahun yang lalu. Jadi Shandy tinggal sendirian semenjak saat itu. Seorang dunia tanpa keluarga semenjak saat itu.
Setahun berlalu, semua berjalan seperti biasa. Shandy menjadi sahabat baik Ariana dan juga sudah dianggap cucu sendiri oleh Nenek. Shandy sama sekali masih belum berani mengungkapkan perasaannya yang tulus kepada Ariana.
Tengah malam saat Ariana sudah tertidur lelap tiba-tiba ada telepon, datang kabar dari Alvian yang telah lama tak ada kabar lagi semenjak memutuskan mengakhiri hubungannya dengan Ariana.
"Halo Nana..", sapa Alvian saat Ariana baru saja mengangkat teleponnya.
"Ini Alvian?", tanya Ariana, terbersit rindu di hatinya.
"Iya Na, ini Alvian.. Nana dan Nenek gimana kabarnya?", Alvian menjawab lembut.
"Baik Al, tapi Nenek akhir-akhir ini lebih sering sakit. Tapi hanya sakit ringan seperti flu, Nana berharap Nenek sehat selalu. Oh ya, Alvian gimana kabarnya?", Ariana mengakui rindu setelah lama tak bertemu Alvian.
"Aku baik Na, aku telah menikah dengan Vera disini. Baru minggu lalu kami menikah, sekarang kami masih di Amerika, dan kemungkinan akan tetap tinggal disini..", jawab Alvian.
Ariana terdiam sejenak, mengerti hatinya rindu kepada Alvian namun sejak awal dia telah ikhlas Alvian pergi. Dan saat mendengar Alvian telah menikah, Ariana menjadi yakin bahwa Alvian memang bukan untuknya dan mengikhlaskan Alvian pergi adalah hal yang paling benar.
"Oh.. iya.. Aah.. Nana senang mendengarnya Al, semoga Al bahagia, rukun dan langgeng bersama Vera ya Al", jawab Ariana dengan senyum di bibirnya.
"Makasih ya Na, salam untuk Nenek Na.. Maaf aku menggangu karena menelepon malam-malam, disini masih siang tapi disana malam kan Na? hehehe...", Alvian tertawa ringan.
"Hmm.. Hehe.. iya Al, disini tengah malam. Iya salam juga untuk istrinya Al kalo gitu", Ariana merasa bahagia mendapat kabar dan bisa tertawa bersama kembali dengan Al.
"Selamat malam Na, selamat beristirahat. Jaga kesehatan ya Na..", Alvian kemudian menutup teleponnya.
Ariana tersenyum dan masih memandang ke layar HPnya, "Semoga Al bahagia dengannya, aku berdoa yang terbaik untukmu Al..".
Keesokan harinya, Ariana bangun dan bergegas menuju kamar mandi. Dia melewati kamar Nenek, "Hmm Nenek belum bangun ya..", seraya berjalan menuju kamar mandi. Setelah selesai menyiapkan diri, Ariana tetap tidak melihat Nenek, "Nenek belum bangun juga..". Ariana kemudian mengetuk pintu kamar Nenek, namun tak ada jawaban sehingga Ariana membuka pintu sendiri.
"Nek... Nek....", sambil menggenggam tangan Nenek.
Ariana mengguncang pelan tubuh Nenek, namun Nenek tetap tidur.
"Nek, ayo bangun, kita sarapan Nek.. Nana juga mau berangkat kerja Nek..", sambil tetap berusaha membangunkan Neneknya lembut.
Lama Nenek tak bangun, Ariana mulai takut, keringat dingin mulai mengucur.
"Neeekkkk... bangun Neekkkk...", Ariana memelas, air mata hampir jatuh membasahi pipinya.
"Ya Tuhaaaannnnn.... Neneeekkk, jangan tinggalin Nana Neekk....", Akhirnya Ariana menyadari Nenek telah tiada, Ariana menangis sejadi-jadinya.
"Neneekkk... Nana enggak terima Nekk, Neneekk bangun, Ariana minta tolong Nek... bangun Neekk... Nana enggak mau sendiri Neekk...", pinta Ariana lirih. Kesedihan yang menjadi-jadi menjalari Ariana seketika itu juga.
Hari yang paling menyedihkan saat Nenek meninggalkan Ariana. Saat pemakaman Nenek, datang Ibu Ros yang tak pernah berhenti memeluk Ariana. Shandy juga sangat sedih atas perginya Nenek untuk selamanya. Shandy tetap berusaha tegar dan menemani Ariana. Shandy sangat mengerti perasaan Ariana, sama seperti Shandy saat Shandy ditinggalkan selamanya oleh Ibunya. Sangat menyedihkan seakan dunia runtuh menimpanya saat itu. Shandy dan Ibu Ros tetap berada di dekat Ariana saat itu. Ibu Ros meminta Ariana untuk tinggal bersamanya, namun Ariana menolak dan lebih memilih untuk tinggal di rumah dia dan Nenek sebelumnya tinggal.
Beberapa bulan setelah perginya Nenek, Ariana berusaha ikhlas dan menata kembali kepingan hatinya yang hancur. Apalagi dukungan dari Ibu Ros dan Shandy begitu besar, merekalah yang selalu menyemangati Ariana. Malam hari ketika Ariana di rumah sendiri, Ariana memandangi foto Nenek dan dirinya. Air mata Ariana kembali berlinang mengingat kenangan manis bersama Nenek. Tanpa pesan dan sangat tiba-tiba Nenek pergi, Ariana sedih namun mencoba ikhlas pada semuanya.
Tok tokk tokk...
Terdengar ada yang mengetuk pintu rumah, Ariana terbangun dari khayalan masa lalu bersama Nenek. Kemudian bergegas menuju pintu dan membukakan pintu. Ternyata Shandy yang datang.
"Na, maukah Nana menjadi istriku?", sambut Shandy saat Ariana membuka pintu sambil menyerhakan rangkaian bunga Lily yang seperti tersenyum kepada Ariana.
Ariana kaget, terdiam dan memandang ke arah Shandy.
"Sejak pertama melihat Nana di Cafe bersama Alvian, aku sudah kagum dengan Nana. Sejak melihat wajah Nana, aku mulai suka dengan Nana. Sejak mengenal Nana, aku tanpa sadar mulai sayang sama Nana...", Shandy dengan gemetar mengucapkan itu. Entah darimana keberanian itu datang, kata-kata yang sudah dari lama dia ingin ucapkan akhirnya keluar juga di hadapan Ariana.
"Aku selalu ingat hari ulang tahun Nana, aku tahu Nana paling suka makan pudding melon di Cafe Banyan, aku tahu Nana suka komik Doraemon, aku tahu Nana suka baju kaos warna biru muda, aku tahu...", tiba-tiba Shandy tidak melanjutkan perkataannya lagi.
"Na, aku bukan laki-laki sempurna. Sekedar tahu apa kesukaan dan ingat hari ulang tahun Nana tidak cukup menunjukkan perasaan sayangku kepada Nana. Tapi aku tulus selama ini Na. Mau kah Nana menikah denganku?", Shandy tegas bertanya.
Ariana meneteskan air mata, kemudian memeluk Shandy.
"Iya Shan, iya...", Ariana membenamkan mukanya.
"Maafin Nana gak pernah melihat tulus kasih yang Shandy berikan, ajak Nana bersama Shandy..", Ariana terisak di pelukkan Shandy.
"Iya Na, terima kasih telah menerimaku. Terima kasih untuk bersedia menjadi istriku. Terima kasih atas kesempatan ini.. Aku telah menanti ini sejak lama Na..", Shandy mempererat pelukannya.
Bahagia ada dua cara, yang pertama saat harapan dan apa yang kita inginkan tercapai dan sesuai kenyataan. Dan yang kedua saat harapan tak sesuai dengan kenyataan namun kita ikhlas untuk menerimanya. Tuhan telah merencanakan yang terbaik untuk kita.
--selesai--