Suatu pagi yang indah di pedesaan, masih terdengar suara burung berkicau, sesekali terdengar pula kokokan ayam dan embun belum kering membasahi dedaunan. Matahari pun belum sepenuhnya menampakkan dirinya. Di daerah pedesaan itulah tempat kelahiranku. Di sebuah rumah sederhana bersama dengan keluargaku, Ayah, Ibu, Adikku dan juga bersyukur karena ada kakek dan nenekku. Kami hidup bersama dalam kesederhanaan, dengan tempat tinggal sederhana, dengan makanan seadanya dan juga harapan untuk bisa selalu bahagia. Pagi itu, di rumah sederhana itu aku bangun, beranjak dari tempat tidur dengan kasur kapuk biasa. Tetapi aku selalu bersyukur karena ternyata pagi itu aku masih bisa bernafas, "Oh Tuhan, terima kasih karena aku masih diberi kesempatan untuk hidup". Aku bergegas mandi dan menyiapkan diri untuk pergi ke sekolah yang dekat dengan rumahku, sekolah yang berada di pedesaan juga. Saat itu usiaku masih 13 tahun dan masih mengenakan seragam putih biru. Dandananku sangat payah, semua seadanya. Seragam yang seadanya, sepatu hitam yang usang, serta rambut terbelah dua yang dikepang dengan pita merah. "Tak apalah, yang penting semua lengkap dan nampak rapi", gumamku dalam hati sambil melihat ke dalam cermin yang terpantul bayanganku. Aku menuju dapur sederhana dimana Ibuku tengah memasak, "Bu, sarapan apa?" tanyaku sambil melihat apa yang tengah Ibu kerjakan di dapur. Ibu yang tengah merapikan piring yang baru saja dicuci menjawab, "Ibu bikinkan nasi goreng, ayo dimakan dulu lalu berangkat". Aku segera duduk dan menyantap nasi goreng buatan Ibuku. Setelah itu aku berpamitan kemudian berangkat ke sekolah, di perjalanan aku bertemu dengan sahabatku yang satu kelas denganku dan telah bersama sejak kami masih kecil. "Hai Er...", sapa sahabatku Mitha sambil datang berjalan cepat ke arahku. "Hai Tha, selamat pagi.. Bagaimana Tugas Bahasa Indonesia, kamu sudah mengerjakannya?", balasku. "Tentu, aku kan rajin Er. Oya aku ingin menceritakan sesuatu kepadamu, tapi ini rahasia lho Er", Mitha merangkul tanganku dengan muka serius dan senyum lucu khas anak SMP waktu itu. Aku terdiam, nyaman dirangkul olehnya dan kemudian melanjutkan berjalan menuju ke Sekolah. "OK Laksmitha Anggreni, ada yang bisa saya dengarkan? Sepertinya ini adalah rahasia yang sangat penting. Saya siap mendengarkannya, jadi rahasia apa itu?", jawabku dengan nada menggoda sahabat kesayanganku itu. Mitha pun tertawa dengan lega mendengarkannya lalu menjawab, "Erika, aku sudah jadian sama Andi. Ini rahasia besar bukan?". Aku tertegun, sampai langkahku yang sedari tadi teratur tiba-tiba terhenti. Aku melihat pada sahabatku, mengira-ngira apakah dia bergurau dengan kat-katanya tadi. "Kenapa Er? Aku tidak salah kan? Aku suka sama Andi, kemudian Andi juga sama, jadi apa salahnya kami pacaran?", Mitha langsung melempar pertanyaan kepadaku saat mataku masih melekat pada dirinya. "Tapi kita kan masih SMP Tha, apa wajar kita sudah pacaran?", ku tanya balas padanya. "Erika, coba kamu buka mata dan hatimu. Tidak ada salahnya kita pacaran saat masih SMP, hanya sebagai penyemangat saja kok..", Mitha mulai beragumen tentang pacaran saat masih SMP. "OK, tapi janji ya Tha kalo itu hanya penyemangat untukmu saja..", jawabku. "Hahahaha... baiklah Erika, aku berjanji..", Mitha tertawa bahagia mendapat restu dariku. Dan sampailah kami di sekolah yang asri ini.
Siang hari ketika aku sudah di rumah dan hari ini tidak ada les dari sekolah, aku memikirkan kejadian tadi pagi saat berangkat ke sekolah. Aku memikirkan apa yang dikatakan Mitha. Aku membaringkan diri di kasur kapuk yang tipis di kamarku, untunglah spreinya masih bagus, warnanya orange dengan motif bunga, aku suka. Banyak yang aku pikirkan dan seakan banyak pertanyaan yang mengantri untuk dijawab. Aku bertanya kepada Tuhan dalam hati, karena aku tidak pernah bisa mengungkapkan hal apapun dan menceritakan apapun kepada orang lain bahkan kepada Mitha sahabatku. Aku hanya percaya kepada Tuhan, bahwa Tuhan akan mendengar dan merahasiakan apa yang aku ceritakan. Aku pun memulai curhatku kepada Tuhan, "Tuhan, entahlah apa yang sedang ada di pikiranku. Aku memikirkannya namun tak mengerti apa yang sebenarnya tengah aku pikirkan. Tuhan, semua teman-teman dan sahabatku terlihat begitu bahagia saat mereka merasakan yang mereka sebut cinta, tapi kenapa tidak denganku? Kenapa aku tidak pernah merasakan hal itu dan juga apakah aku akan bisa jatuh cinta? Tuhan, aku melihat pada diriku dan aku melihat gadis desa biasa yang tidak cantik, tidak kaya dan tidak pintar, berhakkah aku atas cinta?". Aku tiba-tiba berhenti bercerita kepada Tuhanku dan merasa aneh karena aku membahas cinta, iya aku anak SMP umur 13 tahun. Ku benamkan mukaku ke dalam bantal yang selalu setia menemani tidurku. "Tidak.. tidak...", suaraku pun keluar setelah pergulatan dalam hati tadi. Aku bangun dari tidur dan kembali mendatangi cermin. Aku melihat-lihat rupaku disana. "Sangat biasa, wajah biasa, rambut biasa, hmm... sangat sangat biasa.", hatiku kembali bergumam. Aku keluar mencari Ibuku yang tengah duduk sambil membuat adonan kue. "Ibu, apa aku cantik?" tanyaku dalam. Ibu pun tersenyum dan menjawab, "Ada apa ini? Kenapa bertanya seperti itu?". Aku langsung tegap berusaha menutupi diri, "Aku hanya bertanya Bu, ayo jawablah, apakah aku cantik?". Sebelum Ibuku menjawab aku langsung berkata lagi, "Iya Bu aku tau, Ibu tidak perlu menjawab, tapi Bu apakah akan ada yang mau menjadi Suamiku suatu saat nanti dengan aku yang sangat biasa seperti ini?". Ibuku terdiam melihatku, Ibu heran kenapa aku bertanya seperti itu. Kemudian Ibu menjawab, "Pasti Er, pasti akan ada orang itu. Percayalah.. Jadilah dirimu yang terbaik, selalu..".
Waktu pun berjalan setelah saat itu, namun kata-kata Ibu tetap aku simpan. "Hai Erika gadis yang sangat sangat biasa, orang itu pasti ada..", itu yang ada dalam ingatanku. Waktu membuatku berada di umur hampir 17 tahun dan aku sudah memakai putih abu-abu.
Sore hari saat aku berjalan keluar bersama teman-temanku, menikmati pemandangan lalu lintas kota. Bersyukur aku bisa melanjutkan sekolah di kota. Kami bercanda dan mengobrol, melihat-lihat keramaian sekitar. Tiba-tiba orang itu datang, "Oh Tuhan, aku rasa dia lah orangnya", gumamku dalam hati. Kami saling memandang kemudian kami berkenalan, entah dorongan apa namun aku dengan senang hati berkenalan dengannya, ku rasa dia lah orang itu.
Setelah jalan-jalan sore itu aku lebih sering mengobrol dengan Tian, makhluk ciptaan Tuhan yang aku pikir adalah orang itu karena aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Hati yang gelisah, rindu dan debar-debar di dada. Kami pun berjanji untuk bertemu kembali pada suatu sore, saat itu ternyata Tian mengatakan untuk ingin menjadi kekasihku. "Tuhan, aku Erika, gadis yang sangat sangat biasa kini telah menemukannya..", aku tertawa sekencang-kencangnya dalam hati saat itu. Tanpa pikir panjang aku menerimanya, dan kami berpacaran. Dan aku Erika, akhirnya berpacaran untuk yang pertama kali.
Tiga bulan berlalu, akhirnya bulan September datang. Bulan ini adalah bulan yang sangat indah, bulan kelahiranku. "Ulang tahunku yang ke-17, aku ingin merayakannya bersama orang itu, Tian..", bisik hatiku. Hari yang ku nanti pun tiba, aku berjanji bertemu dengannya. Aku ingin bersama dengannya, cinta pertama ini sungguh mengikatku dalam pusaran kuat dan tak bisa melihat lagi pada yang lain. Namun apa yang kadang kita harapkan tidak selalu sejalan dengan kenyataan. Hari yang ku nanti itu adalah hari dimana orang itu pergi dariku. "Maaf Er, aku rasa kita berteman saja. Beberapa bulan lagi kita kelas XII dan harus menghadapi ujian. Aku ingin kita konsen terhadap pelajaran kita, jadi aku harap pengertianmu Er..", kata Tian tepat dimana aku ingin menjalani waktu itu hanya bersama dia. Aku terdiam, hatiku menangis namun wajahku tegar. "Tuhan, bukankah dia orang itu?? tapi kenapa dia pergi Tuhan???", tanyaku tak ikhlas kepada Tuhan. Aku menunggu Tuhan menjawab pertanyaanku, aku berharap Tuhan berkata, "Bangun Erika, ini hanya mimpi". Namun Tuhan tidak menjawab, dan ini adalah nyata. Aku masih terdiam, mataku beralih melihat kepada mata orang itu. Dia menggenggam tanganku dan berkata, "Maaf Erika, dan terima kasih untuk semua..". Aku belum sempat menjawab, tapi genggaman itu sudah dilepaskan dan orang itu pergi. "Tuhan, duniaku hancur saat ini", kata hatiku lirih. Air mata pun akhirnya menetes di pipiku, sudah tidak terbendung lagi perihnya.
Tuhan benar-benar baik, waktu berlalu mengobati semua. Dunia kembali terlihat sama seperti sebelum mengenal Tian. Matahari kembali tersenyum, angin kembali bersahabat membelai wajahku, semua nampak sangat indah. Walaupun kadang aku masih ingat senyum itu, cinta pertamaku. Akhirnya aku masuk kelas XII.
Telepon masuk, handphoneku berdering... aku raih handphoneku dan melihat siapa yang menelepon. "No siapa ini?", tanyaku sendiri. Aku angkat, aku menjawab, "Hallo..". Diseberang terdengar suara yang menyahut, "Hallo, Erika ya?".
"Iya, maaf ini siapa?"
"Hai Erika, aku Aditya. Hahaha... apa aku mengganggumu?"
"Aditya siapa?"
"Maaf, aku hanya ingin mengenalmu. Dari temanku aku mendapat No HP mu, jadi boleh kita berteman?"
"Teman siapa?"
"Jadi boleh kita berteman?"
"Aku tanya teman siapa namanya yang ngasi no ku?"
"Boleh berteman gak?"
Tuut tuutt tuutt....
Aku matikan teleponnya, karena orang tidak jelas yang menelepon dan tidak ada alasan untuk buang-buang waktu.
Namun orang itu ternyata tidak putus asa, setiap hari dia mengirim pesan padaku, menanyakan kegiatanku, sekolah dan pelajaranku, semua perhatian yang dia tunjukkan membuat tembok pembatas aku dengan orang tidak jelas itu rubuh. Waktu bergulir dan aku mulai membalas pesannya, mulai berbicara dengan baik di telepon dengannya bahkan akhirnya aku menunggu telepon darinya. Sungguh diluar dugaan. Aku tidak peduli lagi tentang darimana dia mendapat No HPku. Yang ku tau, dia 7 tahun lebih tua dariku dan sudah bekerja di sebuah Hotel berbintang, karir yang lumayan bagus menurutku.
"Wah.. hari ini cerah sekali, minggu pagi yang indah..", celotehku pagi-pagi saat membuka jendela kamar kos ku. Maklum semenjak masuk SMA aku tidak tinggal bersama keluarga lagi karena aku bersekolah di lingkungan kota yang agak jauh dari rumahku yang asri itu. Hari ini aku ingin menikmati libur yang sehari ini untuk bermalas-malasan setelah hampir setiap hari berkutat dengan pelajaran dan les jelang ujian akhir. Tiba-tiba telepon berdering memanggil untuk dijawab, aku mengambil HPku dan melihat nama yang menelepon, "Aditya".
"Halo Dit..", sapaku akrab, karena walaupun belum pernah bertemu sepertinya aku sudah dekat dengannya, itu juga karena faktor waktu yang lumayan lama kami mengenal hanya via telepon, bahkan aku tidak pernah tau atau menanyakan nama facebook, untuk melihat wajahnya seperti apa.
"Hai Er, hari ini libur kan? Kita ketemu yuk..", ceplosnya.
"Aku libur, tapi...itu.. apa namanya....", aku ragu untuk bertemu, lebih nyaman rasanya hanya mengenal suaranya saja.
"Aku tunggu di depan sekolahmu, dekat dari kosmu kan? nanti kita pergi keluar sebentar untuk jalan-jalan. Jam 4 sore ya Er..", jawabnya dengan nada santai dan cuek seperti aku pasti akan setuju dengan perintah atau pernyataan sepihaknya.
"Eeehh... Dit.. Dit... kayaknya aku gak...", belum selesai bicara namun Aditya menyalipku dari samping dan menyambar, "OK pokoknya, jam 4 sore, aku tunggu..", tuutt tuuut tuut... dia langsung mematikan telepon dan aku masih belum percaya apa yang dia lakukan barusan.
"Apa yang sebenarnya ada di dalam otaknya, kenapa dia selalu memaksakan kehendaknya, dasar..", kesalku dalam hati. Aku tidak begitu memikirkan hal tersebut, aku menikmati waktu dengan bersantai dan membaca buku komik yang sebelumnya pernah ku baca, belum ada budget untuk membeli komik baru. Hingga jam 4 sore itu pun hampir tiba. Aku kaget melihat jam yang menunjuk pukul 15.45 saat itu. "Ya ampun, 15 menit lagi...", aku segera mengambil HP dan berusaha menelepon Aditya untuk membatalkan janji tadi. Namun beberapa kali menelepon dia tidak mengangkat teleponnya, beberapa menit kemudian datang SMS dari Aditya..
"Er, aku sudah di depan sekolahmu, ayo aku tunggu pokoknya, jangan buat aku kecewa ya.."
Aku terdiam membaca SMS itu, kemudian segera mengambil handuk bergegas mandi. Mandi tercepat dalam hidupku ya pada sore itu, aku membuka lemari kecil pakaianku, aku melihat-lihat baju terbaik yang ku punya, tidak ada waktu, aku ambil baju kaos abu-abu kesukaanku dan celana pendek selutut, sudah tidak ada pilihan karena hanya ini yang masih ada di dalam lemariku. Aku mengenakannya dan melihat ke cermin, aku melihat kembali gadis SMP yang dulu, gadis yang sangat sangat biasa. Tidak ada yang berubah, hanya bertambah lebih tinggi dari yang dulu. Tak mengapa, aku hanya ingin bertemu sahabat yang telah beberapa bulan ini menemaniku, aku hanya tak ingin dia kecewa menunggu walaupun kesal dia membuat keputusan sendiri. Aku bergegas berjalan ke depan sekolah yang sepi di hari minggu itu, yang jaraknya hanya berjalan 5 menit dari kosku.
Aku melihat-lihat di depan sekolah, sambil bergumam dalam hati, "Ya Tuhan, bodohnya aku... Kenapa mau bertemu dengan orang yang belum pernah aku kenal, belum pernah aku lihat wajahnya, bodoh bodooh...", namun tiba-tiba makhluk ciptaan Tuhan itu datang menghampiri.
"Erika..", sapanya manis.
Aku memandang manusia di depanku yang menghampiri itu. Senyumnya manis, matanya indah dengan bulu mata lentik alami, garis wajahnya dan semuanya membuat aku terpana dan terdiam.
"Ya Tuhan, siapa ini? Apa Engkau mengirim malaikat kepadaku saat ini?", gumamku dalam hati.
"Hai Er, kita siap pergi sekarang?", tanya Aditya sekali lagi sambil melempar senyuman termanis yang pernah aku lihat seumur hidupku. Sementara aku masih terdiam, Aditya memegang tanganku, menarikku menuju sepeda motornya. "Er, gak apa kan ya kita pakai sepeda motor? Aku belum bisa membeli mobil, hahahaha...", candanya padaku seraya memberi helm cantik berwarna pink berisi gambar kupu-kupu padaku, dan aku masih dalam posisi yang sama, gadis lugu yang tertegun terdiam melihat malaikat manis di depanku. "Pakai ini ya Er, ini untukmu...", kata Aditya, lagi-lagi dengan senyum manisnya. Aku menggapai helm pink itu, memakainya dan tersenyum membalas senyuman Aditya kepadaku. "Ayo, siap pergi komandan", kataku seperti kami sudah mengenal bertahun-tahun lamanya. Aku yang masih canggung naik ke motornya dan kami pun berlalu.
Belum pernah aku berada sedekat ini dengan teman cowok , hanya kali ini dan ini yang pertama. Di perjalanan 30 menit itu aku dan dia banyak berbicara, mengobrol biasa seperti saat kami beretelepon. Ternyata dia orang yang menyenangkan. Kami tiba di taman kota, banyak orang yang berolahraga disana, sekedar duduk-duduk juga ada, beberapa orang tua juga mengajak anak mereka bermain disana. Kami pun duduk di kursi taman, perbincangan tidak pernah putus sedari tadi. Sungguh hari yang menyenangkan. Awan dan matahari sore yang indah, angin yang lembut, bunga-bunga yang ramah, semua baik kepadaku.
Aditya mengantarku dengan selamat pulang ke kos, sebelum pulang pun dia sempat mentraktirku makan terlebih dahulu. Hari ini aku merasa sangat senang, semua berjalan dengan baik. Aku merebahkan diri sejenak, masih terasa dan melekat aroma itu. "Ya Tuhan, kenapa secepat ini aku jatuh cinta..?", tanyaku sendiri.
Waktu pun memberi banyak arti saat aku lebih mengenal Aditya, apapun terasa menyenangkan dan nyaman di dekatnya. Kami lebih sering bertemu dan cinta memang datang padaku. Aditya menjadi sahabat baik yang selalu ada untukku, menjadi kakak yang melindungiku, dan menjadi pacar yang menyayangiku. Sungguh kebaikan Tuhan, kami menjalin kasih hingga akhirnya kami menikah setelah 8 tahun berpacaran. Bukan waktu yang sedikit, tapi itu lama dan sangat berarti. Bukan hanya tawa dan bahagia namun juga sedih dan tangis yang mewarnai kisah kami. Walau kadang luka sangat pedih terasa dan egois dalam diri masing-masing selalu ingin merajai. Tapi kami tetap masih bisa berjalan bersama.
Ingatanku melayang pada saat aku masih SMP dulu...
Pertanyaanku dulu kepada Ibuku, "Bu, apakah akan ada yang mau
menjadi Suamiku suatu saat nanti dengan aku yang sangat biasa seperti
ini?". Dan jawaban Ibuku, "Pasti Er, pasti akan ada orang itu.
Percayalah.. Jadilah dirimu yang terbaik, selalu..".
Aku bergumam dalam hati, "Ibu, maaf tapi Ibu salah, Tuhan tidak mengirimkan orang itu kepadaku namun Tuhan mengirim Malaikat Bu untuk gadis yang sangat sangat biasa ini.. Malaikat yang menjadi peneduh dalam hidupku, Aditya..".
--selesai--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar